Tips Memotret Human Interest

Tips Memotret Human Interest – Foto human interest Sekarang ini memang Teknik yang paling digemari saat ini oleh kalangan fotografi. Pada Lomba-lomba pun biasanya tema HI paling digemari, . Pasalnya, foto human interest selain mengandung nilai-nilai kemanusiaan, sentuhan khas dari sang fotografi membuat setiap karyanya menjadi unik. Namun sentuhan khas ini bukanlah keahlian yang dapat dipelajari tapi satu kelebihan yang sebenarnya sudah ada pada setiap fotografer atau terkadang disebut sebagai bakat. Memang perlu waktu untuk mengenalnya, mengasah dan memantapkannya dalam satu proses seni penciptaan. Manusia dengan segala aspek kehidupan yang dilakukannya memang selalu menarik untuk dijadikan objek pemotretan. Kemenarikan tersebut bisa muncul, karena dipicu oleh kegiatannya yang terasa menyentuh. Baik itu aktivitas dalam suatu adat budaya suatu masyarakat tertentu maupun aktivitas dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut contoh foto-foto Human Interest Hasil jepretan Fotografer Kalsel Hery Ahmad :




Meski begitu bukan berarti seorang fotografer pemula menjadi pesimis. Sebab bila kita bersedia melihat dengan mata hati kita, mempertajam intuisi dan kepekaan terhadap dunia sekeliling kita, dan mengikuti dorongan naluri seni yang mengalir bebas tanpa beban, setiap orang dari kita akan mampu menciptakan karya foto yang kental dengan sentuhan pribadi si pencipta.

Proses penciptaan karya foto selalu dimulai dengan interaksi yang akrab antara Anda dengan subjek foto, apakah itu manusia, keindahan pemandangan ataupun keajaiban alam. Dari komunikasi pribadi ini kemudian muncul umpan balik berupa emosi yang menjadi stimulan kreatif untuk menciptakan foto yang dapat menangkap “jiwa” dari apa yang kita lihat dan alami. Inilah proses untuk menemukan karya cipta individu yang khas yang menjadi ekspresi pribadi yang kuat dari setiap fotografer.

Cara terbaik membuat foto-foto manusia adalah dengan pendekatan pribadi yang tulus, melalui senyum, percakapan dan interaksi lain untuk menciptakan keakraban dan rasa nyaman. Ketika sudah merasa diterima, barulah utarakan keinginan Anda membuat foto mereka. Jika sudah demikian Anda hampir tidak pernah menemukan lagi orang yang menolak, bahkan ketika Anda minta mereka berpose, merubah posisi, senyum atau melakukan kegiatan yang sedang mereka lakukan.

Bagi fotografer yang terbiasa mengamati masalah-masalah sosial, maka objek yang berlatar belakang aktifitas manusia ini akan menjadi sebuah karya foto yang begitu menarik untuk dilihat dan tentunya tidak akan sulit untuk dilakukan.

Nah, foto yang menjadikan manusia sebagai objek pemotretan ini biasanya disebut sebagai foto human interest. Namun masalahnya, memotret humant interest ini terkadang tidak semudah yang kita bayangkan. Banyak kendala-kendala di lapangan yang harus kita lalui ketika kita memotret obyeknya, contohnya ketika kita hendak mengambil gambar tiba-tiba si objek yang bersangkutan sadar kamera, sehingga hasil gambar yang kita dapat terkesan tidak tampak alami.

Untuk Anda yang ingin memotret hument interest mungkin beberapa tips di bawah ini dapat bermanfaat bagi Anda:

1. Siapkan lensa tele

Biasanya para fotografer ketika hendak memotret human interest manusia dan aktivitasnya, kebanyakan pemotret menggunakan teknik candid atau cara memotret yang dilakukan dengan sembunyi-sembunyi sehingga objek tidak tahu jika dirinya sedang dipotret. Hal tersebut karena alasan untuk menghasilkan foto yang tampak baik dan menarik, spontan dan wajar.

Untuk itu, ada baiknya Anda menyiapkan lensa tele 80-200 mm atau 70-300 mm yang bisa dijadikan pilihan yang menarik untuk bisa digunakan saat kita hunting foto human interest. Akan tetapi bila memungkinkan menggunakan lebih dari satu buah kamera dengan tambahan lensa 28-85 mm, akan lebih baik. Sehingga dari hampir semua jarak dalam pemotretan, baik itu dekat, sedang dan jauh, dapat tercover semua bila diperlukan.

2. Lakukan pendekatan dengan objek foto.

Bagi Anda yang tidak membawa atau memiliki lensa tele, mungkin ada baiknya kita bisa melakukan pendekatan langsung dengan objek foto. Dengan melakukan pendekatan kepada objek, tentunya akan terasa lebih etis dan kita pun bisa lebih leluasa untuk mengatur pose, ataupun pencahayaannya.

3. Gunakan ISO sesuai dengan keperluan

Biasanya untuk memotret human interest, menggunakan ISO 100 sudah cukup memadai untuk menangkap aktivitas kegiatan manusia baik pagi, siang hingga sore hari di luar ruangan. Akan tetapi bila aktivitas manusia itu sangat berhubungan erat dengan gerak yang cepat, maka diperlukan ISO yang tinggi misalnya ISO 400. Tujuannya tak lain agar gambar atau peristiwanya dapat terekam dengan baik dan tidak goyang.

4. Gunakan angle (sudut pengambilan foto) yang terbaik

Ketika hendak memotret, gunakan sudut pandang atau sudut pengambilan foto yang tepat dan baik guna menghasilkan sebuah foto yang enak untuk dipandang. Janganlah terburu-buru ketika menekan tombol shutter, karena dengan terburu nafsu untuk “menjepret” mungkin Anda akan melupan angle foto yang baik untuk memotret.
link

Bercerita Rasa Makanan Lewat Food Photography

Teknik Fotografi – Tertarik belajar tentang fotografi makanan atau yang sering disebut dengan food photography? Maka artikel tentang beberapa tips pengenalan food photography ini tepat untuk dibaca. Anda mungkin sering pergi ke toko buku dan menemukan banyak sekali buku-buku resep makanan, wisata kuliner yang berisi banyak sekali foto-foto makanan yang bisa membuat Anda meneteskan air liur, dan penasaran bagaimana rasa makanan tersebut.

Warna-warni sayuran yang diselimuti oleh saus dan disajikan diatas piring putih bersih dengan tatanan meja yang begitu indah. Pemandangan tersebut mungkin sudah tidak asing lagi bagi Anda penikmat dan pelaku fotografi. Terkadang dalam buku-buku tersebut terasa bahwa fokus yang disajikan bukan masalah resep makanan atau tempat kuliner tersebut, tetapi makanan-makanan itulah yang menjadi pemeran utama.

Tetapi bagaimana Anda bisa memotret makanan tersebut dengan indah?
Pencahayaan atau lighting – Perlakukan makanan yang akan dipotret layaknya Anda memotret seorang model yang begitu menawan dan pastikan subyek mendapatkan cahaya yang cukup terang. Banyak sekali foto-foto makanan dalam food photography yang tidak layak ditemui baik di media cetak maupun internet disebabkan oleh kurangnya cahaya pada saat pemotretan. Salah satu tempat terbaik untuk melakukan food photography adalah di dekat jendela dengan cahaya matahari alaminya. Flash yang dipantulkan ke langit-langit mungkin bisa mendukung dan memberikan cahaya yang lebih seimbang dengan meminimalkan bayangan yang sedikit kuat. Memotret dengan cahaya matahari akan membuat makanan akan tampak lebih natural.
Proporsi – Jangan hanya memperhatikan pengaturan tata letak makanan yang disajikan, tetapi juga konteks dimana makanan itu disajikan termasuk piring atau mangkuk dan juga pengaturan disekitar meja. Jangan mengacaukan foto dengan memotret meja secara penuh dalam frame, tetapi pertimbangkan juga memasukkan Satu atau Dua elemen tambahan seperti gelas, garpu, bunga, atau serbet. Unsur atau elemen ini bisa Anda tempatkan di bagian depan atau belakan g tetapi bukan sebagai fokus utama.
Jangan memotret terlalu lama – Makanan cenderung tidak bisa lama tampak menggiurkan, maka persiapkan dengan baik perangkat fotografi Anda sebelum pemotretan, Anda dituntut untuk mampu memotret sesegera mungkin setelah makanan dimasak, jika terlalu lama maka makanan tersebut akan meleleh, terlihat layu dan telah berubah warna. Hal ini berarti persiapan mutlak diperlukan. Ketahui apa yang Anda inginkan sebelum makanan sudah dimasak. Salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah sebelum makanan keluar dari dapur, Anda sudah mengatur semua properti dengan proporsi yang diinginkan serta ambillah beberapa gambar hanya dengan piring kosong atau sample untuk medapatkan exposure yang pas. Anda tinggal menggantikan makanan sample tersebut ketika makanan sebenarnya telah siap untuk dipotret.
Berikan style makanan – Bagaimana makanan diatur dalam piring merupakan hal yang penting. Berikan perhatian lebih pada keseimbangan makanan ketika pemotretan (warna, bentuk, dll) dan berikan sedikit ruang kosong pada frame (rule-of-third). Salah satu cara yang manjur untuk belajar hal ini adalah melihat hasil karya fotografer profesional.
Berikan tambahan jika perlu – Salah satu tip yang bisa dilakukan adalah jangan ragu untuk memberikan tambahan sentuhan yang menurut Anda perlu, seperti mengoleskan minyak sayur dengan menggunakan tangan Anda pada permukaan makanan agar tampak lebih mengkilat pada foto Anda.
Gunakan angle rendah – Sebuah kesalahan yang biasa dilakukan oleh fotografer pemulah adalah memotret dari bagian atas piring tersebut. Mungkin hal tersebut berlaku pada beberapa kondisi, namun pada kebanyakan kasus Anda akan mendapatkan hasil foto yang maksimal dengan memotretnya dari angle rendah, hampir sama dengan level pandangan piring berada.
Makro – Benar-benar memfokuskan pada salah satu bagian penyajian makanan bisa menjadi cara efektif untuk menonjolkan elemen-elemen yang berbeda.
Uap – Memotret makanan dengan uap yang berasal dari makanan bisa menimbulkan kesan bahwa makanan tersebut menang dimasak dengan baik, namun hal ini sulit untuk didapatkan secara alami. Beberapa food-stylist untuk food photography berbagi cerita bahwa biasanya mereka sengaja menambahkan uap, dengan menempatkan kapas air yang dipanaskan dan ditempatkan di balik makanan. Tips ini bisa dikatakan akan sedikit rumit, tetapi itu trik yang menarik bukan?
Selamat mencoba!
link here

7 Tips Memilih Tema Foto Pre Wedding

Dalam mencari inspirasi foto pra pernikahan yang menarik untuk dipajang di gallery foto saat wedding party, caranya mudah. Lokasi, suasana, dan kostum bisa Anda pilih sesuai tema yang pasangan Anda juga menyukainya. Berikut kiat dalam menentukan tema foto pre wedding:
Tema Foto Kenangan Pasangan
Tidak ada salahnya Anda memilih tema foto dimana saat Anda dan pasangan pertama kali bertemu. Atau pilihlah tempat spesial bagi Anda dan pasangan, dengan begitu menjadi keunikan tersendiri sekaligus mengingatkan kenangan indah. Apapun tempatnya, tentu akan mengingatkan pertemuan cinta dan dengan adanya foto pre wedding selalu terkengan.
Tema Foto tempoe Doloe
Berpose di tempat-tempat jadoel, yang memiliki nilai sejarah, tentu juga menjadikan foto pre wedding Anda semakin khas. Contohnya di museum atau lokasi yang orang kenal menyimpan sejarah dibaliknya. untuk mendukung kesempurnaan foto, sesuaikanlah kostum dan tambahkan property atau aksesoris tempo dulu.
Tema Foto Profesi
Pilihan menarik lainnya adalah profesi Anda juga pasangan. Terlebih jika Anda memiliki kesamaan profesi dan profesi itu mempertemukan cinta Anda berdua. Romantis dan penuh makna pastinya.
Tema Foto di Area Publik
Anda juga bisa menghasilkan foto yang tidak bisa pada umumnya yaitu berpose di area publik. Tempat padat seperti terminal sebuah bandara, di dalam busway, diatas kereta yang sedang melaju, tentu menjadi daya tarik tersendiri.
Tema Foto Hobi
Adakah hobi yang menyatukan Anda juga pasangan? jika ada mengapa tidak mencoba untuk menjadikannya tema foto pre wedding. Selain unik dan mencirikan Anda dan pasangan, dalam berpose tentu bisa menjadi lebih menyenangkan hingga hasilnya maksimal. Misalnya Anda hobi memelihara kucing, mengoleksi benda antik, dll.
Tema Foto Movie
Anda dan pasangan adalah movie freak? Tema wedding ala movie star cocok untuk Anda terlebih jika Anda sering menghabiskan waktu nonton bioskop berdua. Kostum yang sesuai dengan film yang Anda pilih bisa lebih menonjolkan tema foto tersebut.
Tema Foto Hang Out
Pilihlah kafe, restoran, atau apapun tempat Anda dan pasangan sering hang out bersama. Sekalipun tidak membutuhkan properti yang rumit dan kostum yang sesuai, Anda tetap bisa membuat foto tersebut berkesan sebab menyimpan kenangan.
Bagi ClubO yang hobi fotografi, baca juga teknik foto potret dan tips fotografi lainnya di halaman ini.
link here
https://i2.wp.com/4.bp.blogspot.com/-ERyANy-Ya00/TiLoGpgY1OI/AAAAAAAACwA/UELBu2nx9cU/s1600/Pantai+Bangka+Belitung.jpg

FOTO PRE WEDDING MINIM PERALATAN

Sering menolak tawaran foto pre-wedding karena tidak memilki peralatan lengkap? Sebaiknya jangan lakukan itu lagi. Hanya bermodalkan satu kamera DSLR dan lensa kit, Anda bisa menerima proyek pre-wedding jutaan rupiah. Kami akan memberikan beberapa tips ringan dalam memotret pre-wedding dengan peralatan minim.

Percaya diri
Ini adalah hal pertama yang harus Anda lakukan pertama kali. Sekali Anda tidak percaya diri di depan klien, maka saat itu pula sang klien akan merasakannya. Tunjukkan profesionalitas meski di tangan Anda hanya sebuah kamera DSLR entry level dengan lensa kit kebanggaan. Lensa kit bukanlah produk gagal, jadi kemampuannya juga bisa diandalkan. Anda bisa lihat foto-foto menakjubkan dari lensa kit disini.

Gunakan jurus bokeh
Pastikan format RAW+L sudah dipilih di kamera dan ciptakan hasil foto layaknya bidikan lensa prime. Maksimalkan bukaan lensa kit (3.5) untuk menghasilkan bokeh yang memesona. Cara pertama adalah menempatkan objek menjauh dari background, lalu dekatkan lensa dengan objek (usahakan tidak melakukan zooming) agar bukaan tidak berubah. Yang perlu diingat, lakukan cara ini dalam kondisi siang atau pencahayaan tinggi.

Jika melakukan pemotretan malam hari, Anda bisa menggunakan teknik BULB atau low speed (tidak perlu flash). Carilah posisi paten untuk dudukan kamera (tidak perlu tripod). Yang harus dilakukan adalah mencari lokasi (background) yang tepat dan memberitahu klien Anda untuk tidak bergerak dalam beberapa detik.

Perbanyak Aksesoris
Aksesoris pakaian adalah solusi pintar dalam menutupi kekurangan foto. Edukasi klien agar memakai pakaian yang bergaya lengkap dengan aksesoris fashion atau pendukung (seperti rangkaian bunga tangan, dll). Usaha ini akan semakin manis dengan mengubah komposisi warna menggunakan white balance pada kamera.

Kuasai Teknik Dasar Photoshop
Memaksimalkan color balance, mengatur saturation, dan menambah beberapa efek bisa Anda lakukan untuk menghias foto pre-wedding. Jika ingin instant, unduh beberapa action yang gratis di berbagai forum, maka dengan sekali KLIK! Dapatkan foto dengan warna spesial. Terakhir, atur foto membentuk sebuah kolase yang simple dan menarik.

Kemas Foto dengan Baik
Tahap ini adalah tahap finishing. Cetak foto Anda di tempat terpercaya, gunakan kertas foto (doff/glossy) sesuai selera klien. Lakukan laminasi foto (juga berdasarkan kesepakatan awal). Pilihlah bingkai cantik dan minimalis (disesuaikan dengan nuansa foto). Jika masih tersisa modal, bungkuslah dengan kreatif layaknya sebuah lukisan mahal.

Selamat mencoba!
link

Membuat Bokeh Dengan Bentuk Menarik

Setelah mengetahui kehebatan lensa prime 50mm, ada beberapa hal menyenangkan yang bisa kita buat dengan lensa ini. Salah satunya adalah membuat bokeh dengan bentuk-bentuk menarik. Dalam artikel ini kita akan mencoba proyek sederhana, membuat bokeh dengan bentuk hati.

Untuk membuat bokeh berbentuk ini, kita bisa menggunakan lensa apapun asal memiliki aperture maksimal yang besar. Salah satu lensa paling ideal adalah lensa 50mm f/1.8 yang bisa menghasilkan bokeh bagus namun harganya sangat terjangkau.
Apa Saja Yang dibutuhkan?

Berikut beberapa item yang anda butuhkan:

Sebuah lensa dengan aperture maksimal besar, idealnya f/2.8 atau f lebih kecil. Seperti sudah ditulis diatas, lensa seperti 50mm f/1.8 adalah kandidat ideal
Sebuah kertas hitam
Selotip atau lakban hitam
Gunting

Membentuk Bokeh Dengan Bentuk Hati

Langkah yang diperlukan untuk membuat bokeh dengan bentuk menarik cukup mudah, intinya adalah kita harus menutup seluruh permukaan lensa dengan kertas hitam tadi. Sebelumnya, potong kertas hitam dengan bentuk lingkaran dengan diameter yang sama dengan diameter lensa, buat bentuk hati ditengah lingkaran ini. Potong kertas kedua dengan bentuk persegi panjang yang akan dipakai mengelilingi lensa disamping. Sehingga bentuk akhir saat dipasang di lensa adalah seperti ini:

Bokeh bentuk hati 2

Sekarang saatnya menggunakan lensa yang sudah dipasangi bentuk menarik ini, set kamera diposisi aperture priority, lalu gunakan lensa di bukaan maksimalnya, f/1.8 atau f/2. Contoh bentuk bokeh yang bisa dibuat dengan cara diatas (lihat 15 foto dengan bentuk bokeh buatan yang menarik sebagai bahan inspirasi anda), misal seperti ini:

Bokeh bentuk hati 3

Atau seperti ini:

There’ll be much mistletoeing and hearts will be glowing, when loved ones are near. It’s the most wonderful time of the year🙂

Kita juga bisa membuat bentuk yang cukup eksentrik, seperti ini:

diy custom bokeh masks

Sehingga hasilnya cukup aneh, seperti karya whatsiname ini:

traffic jamkeh [ diy custom bokeh ]
link

Berat Badan Turun 22 Kg hanya dengan Air Putih


Memiliki badan ideal adalah impian semua orang, tapi pada kenyataanya tidak sedikit yang memiliki badan kurus ataupun gemuk. Orang kurus ingin gemuk dan yang gemuk ingin kurus, itulah manusia. Si kurus tidak henti-hentinya minum susu, porsi makan ditambah bahkan sampai minum obat, yang gemuk juga demikian, porsi makan dikurangi, sering olah raga, minum obat dan fitnes. Itu semua dilakukan hanya satu tujuan, mempunyai badan ideal.

Ini pengalaman pribadi, sejak kecil hingga kini kurus dan gemuk bukan hal yang baru. Waktu TK sampai kelas 4 SD saya kelihatan kurus kering tapi ketika kelas 5 SD tepatnya setelah di khitan berat badan saya naik drastis, yang semula mirip tongkat menjadi bulat seperti bola. itu hanya bertahan selama 3 tahun, kelas 2 SMP sampai lulus SMA badan saya kelihatan kurus dan ketika akan masuk perguruan tinggi sedikit demi sedikit menjadi gemuk sampai puncaknya berat badan saya mencapai 84 kg.

Memiliki berat badan 84 Kg memang menyusahkan. Jalan terasa lambat, duduk serba salah apalagi naik ojek. tapi semua itu saya anggap biasa tanpa ada sedikitpun usaha untuk diet, paling hanya main footsal itupun sesekali ketika diajak teman untuk main barsama.

Sungguh luar biasa, hampir tidak percaya, kurang dari 2 bulan berat badan saya turun 22 kg dari 84 Kg menjadi 62 Kg, tanpa diketahui penyebabnya. Makan tetap seperti biasa, satu piring penuh, olah raga jarang, dietpun hanya ada dipikiran tidak pernah dilaksanakan dan gejala-gejala sakitpun hampir tidak ada.

Waktu itu saya benar-benar seperti artis baru, hampir semua orang bertanya-tanya kenapa kamu bisa kurus seperti ini?, kamu sakit ya?, kamu fitnes dimana?, Caramu diet bagaimana?, banyak sekali pertanyaan dari teman-teman yang saya jumpai tapi tak satupun dari pertanyaan mereka saya jawab, bukan karena sombong atau malas menjawab melainkan saya tidak tahu harus menjawab apa.

Lama kelamaan saya berfikir, apakah saya sakit?, kemudian pergi kedokter untuk memeriksakan keadaaan saya. syukur, tidak ada penyakit ditubuh saya kata dokter, hanya saja waktu itu saya kurang darah dan tidak ada sangkut pautnya dengan penurunan berat badan yang drastis itu.

Tidak henti-hentinya saya berfikir kenapa berat badan saya bisa turun sebanyak itu, pasti ada sebabnya. Ternyata benar, memang pada waktu itu ada hal yang tidak biasa saya lakukan yaitu banyak minum air putih. Kondisi pada waktu itu Kairo Mesir memang panas sekali dan membuat saya tidak henti-hentinya minum air. Sehari saya bisa menghabiskan lebih dari 8 litter air putih meskipun efek dari itu saya harus keluar-masuk kamar mandi lebih dari 15 kali dalam sehari.

Saya yakin, air putih itulah yang membuat berat badan ini mengalami penurunan drastis. barhari-hari mencari jawaban diinternet, ternyata banyak saya temukan tulisan yang membahas bahwa air putih selain menyehatkan juga bisa menurunkan berat badan.

Sejak itu setiap berat badan saya naik, sesegera mungkin minum air putih sebanyak-banyaknya dan hal itu seperti terapi alami bagi saya.
link

Canon EOS 5D Mark III Review

In 1987 Canon unveiled the EOS 650 to the world. It was the Japanese manufacturer’s first 35mm autofocus SLR and the start of the EOS system. With its fully-electronic lens mount, in-lens aperture and focus motors, and reliance on electronic button and dial operation, Canon’s EOS system established a blueprint that all successive camera systems have followed. Now, 25 years later, the Canon EOS 5D Mark III is the latest model in the line.

Up until now, the 5D series has been a dynasty of slightly unlikely revolutionaries. The original EOS 5D of 2005 was the first ‘affordable’ full frame SLR, and the camera that cemented the 24x36mm sensor as the format of choice for many professional applications at a time when many were questioning its continued relevance. The 5D Mark II was the first SLR capable of recording full HD video, a feature that revolutionized the market in a fashion that no one could possibly have envisaged at the time – least of all Canon. On the face of it, though, the latest model offers little that looks likely to make the same impact.

The 5D Mark III has a 22MP full frame sensor in a body that’s based on the EOS 7D design, and with a 61-point AF system borrowed from the flagship EOS-1D X. From the glass-half-empty point of view, this could be seen as an unambitious update that trails disappointingly behind Nikon’s 36MP D800 which was announced around the same time. But for those whose glasses tend more towards the half-full, it might just turn out to be the camera that 5D Mark II owners always really wanted.

Indeed the 5D name itself is almost misleading; compared to its predecessor the Mark III is essentially a completely new model, with every major system upgraded and updated. In a way it’s better seen as a full-frame 7D, with that camera’s control layout, extensive customizability and 63-zone metering sensor. But it also gains a raft of additional tweaks and improvements in response to customer feedback; these range from dual slots for CF and SD cards, through a locking exposure mode dial, to a large depth of field preview button that’s repositioned for right-handed operation, and can be reprogrammed to access a number of other functions.

Read on to find out out how the 5D Mark III performs in our studio and real-life tests, how we liked its handling and operation and if it is the right camera for your requirements and type of photography.

Canon EOS 5D Mark III key specifications

  • 22MP full frame CMOS sensor
  • ISO 100-25600 standard, 50-102,800 expanded
  • 6 fps continuous shooting
  • Shutter rated to 150,000 frames
  • 1080p30 video recording, stereo sound via external mic
  • 61 point AF system
  • 63 zone iFCL metering system
  • 100% viewfinder coverage
  • 1040k dot 3:2 LCD
  • Dual card slots for CF and SD

Canon EOS 5D Mark III and II key differences

Most of the key specs are substantially upgraded compared to the 5D Mark II. The new sensor, coupled with Canon’s latest DIGIC 5+ processor, offers a standard ISO range of 100 – 25,600 that’s expandable to 50 – 102,800. An 8-channel sensor readout enables continuous shooting at 6 fps. The shutter is rated to 150,000 cycles and has been refined for quieter operation; the Mark III also inherits the ‘silent’ shutter mode previously seen on the 1D-series. Viewfinder coverage is a full 100%, and the 1040k dot, 3:2 aspect ratio 3.2″ LCD screen has improved anti-reflection properties and a hardened glass cover to protect against scratching. And let’s not forget that 61-point focus system from the 1DX – the first time Canon has put its top-spec AF sensor into a non-1-series camera since the film-era EOS 3.


Canon EOS 5D Mark III

Canon EOS 5D Mark II
Sensor 22.3 MP full-frame CMOS 21 MP full-frame CMOS
Processor Digic 5+ Digic 4
ISO range 50 – 102800 50 – 25600
Maximum shooting rate 6fps 3.9fps
Viewfinder coverage 100% 98%
LCD screen 3.2″ – 1,040,000 dots 3.0″ – 920,000 dots
AF Sensor 61 points 9 points
CA correction Yes No
All-I and IPV video compression options Yes No
Touch-sensitive rear dial Yes No
Headphone socket Yes No
HDR shooting Yes No
Multiple exposure Yes No
Silent shutter Yes No
Side-by-side image comparison Yes No

Movie mode turned out to be the 5D Mark II’s trump card over its rivals, and its successor naturally offers improved capability in this regard. In terms of ergonomics, the camera gains the 7D’s rear movie mode/live view switch, so you no longer have to compromise your stills Live View settings when setting up for video recording. There’s a built-in headphone socket for audio monitoring, and rear control dial gains touch-sensitive ‘buttons’ that allow recording parameters (shutter speed, aperture, ISO and sound volume) to be changed silently. The video output specifications are essentially unchanged in terms of resolution and framerate (1080p30 maximum), but Canon says the processing is improved to minimise moiré and other artefacts, and has included the higher quality All-I and IPB interframe compression options introduced with the EOS-1D X. What you don’t get though, is the uncompressed output over HDMI seen in the latest Nikon models.

There’s a couple of entirely new features too; the 5D Mark III becomes Canon’s first SLR capable of in-camera High Dynamic Range shooting, in an unusually well-implemented and flexible fashion, and gets expanded autobracketing options too (up to 7 frames covering a vast +/- 8 EV range). It can also record multiple exposures, if you so desire. The introduction of DIGIC 5+ means that JPEG processing (finally) includes chromatic aberration correction, based on lens profiles which are stored in-camera (and therefore limited to Canon’s own lenses). Last but not least, playback mode adds the ability to compare images directly side-by-side, in a number of different views.

The 5D Mark III also gains a refreshed menu system, essentially based on that of the EOS-1D X. It’s not entirely dissimilar to the 5D Mark II’s (so existing users will still feel at home), but it gains a completely new tab for managing its complex AF system, based on a range of usage-scenario presets. The ordering of options has been rationalized, and a number of functions that were previously hidden deep within the custom functions have bubbled-up closer to the surface as top-level menu items, perhaps most notably mirror lockup and Highlight Tone Priority.
link